Senin, 25 Oktober 2010
TEMULAWAK DIPATENKAN AMERIKA SERIKAT
TEMULAWAK DIPATENKAN AMERIKA SERIKAT
Temulawak, tanaman herbal khas Indonesia ternyata hak patennya dipegang oleh pemerintah Amerika Serikat.Kandungan utama yang dimiliki temulawak adalah protein, karbohidrat, dan minyak atsiri yang terdiri atas kamfer, glukosida, turmerol, dan kurkumin. Baru-baru ini, kurkumin dinyatakan sebagai zat y...ang mampu membuat orang panjang usia karena khasiatnya sebagai antiinflamasi (antiradang) dan antihepotoksik (antikeracunan empedu). Dengan segudang manfaat di atas, tak mengherankan bila Amerika memutuskan untuk menjadikan temulawak sebagai miliknya. Terlebih dengan tren pengobatan yang kini semakin mengarah ke obat berbahan dasar tradisional. Ini tentunya merupakan pukulan telak bagi pemerintah, sekali lagi tanaman asli Indonesia 'direbut' oleh asing setelah sebelumnya kunyit juga dipatenkan oleh Jerman. (KF/AA/MI)Lihat Selengkapnya
Temulawak, tanaman herbal khas Indonesia ternyata hak patennya dipegang oleh pemerintah Amerika Serikat.Kandungan utama yang dimiliki temulawak adalah protein, karbohidrat, dan minyak atsiri yang terdiri atas kamfer, glukosida, turmerol, dan kurkumin. Baru-baru ini, kurkumin dinyatakan sebagai zat y...ang mampu membuat orang panjang usia karena khasiatnya sebagai antiinflamasi (antiradang) dan antihepotoksik (antikeracunan empedu). Dengan segudang manfaat di atas, tak mengherankan bila Amerika memutuskan untuk menjadikan temulawak sebagai miliknya. Terlebih dengan tren pengobatan yang kini semakin mengarah ke obat berbahan dasar tradisional. Ini tentunya merupakan pukulan telak bagi pemerintah, sekali lagi tanaman asli Indonesia 'direbut' oleh asing setelah sebelumnya kunyit juga dipatenkan oleh Jerman. (KF/AA/MI)Lihat Selengkapnya
Manfaat Internet Sebagai Media Pendidikan
Teknologi internet hadir sebagai media yang multifungsi. Komunikasi melalui internet dapat dilakukan secara interpesonal (misalnya e-mail dan chatting) atau secara masal, yang dikenal one to many communication (misalnya mailing list). Internet juga mampu hadir secara real time audio visual seperti pada metoda konvensional dengan adanya aplikasi teleconference.
Berdasarkan hal tersebut, maka internet sebagai media pendidikan mampu menghadapkan karakteristik yang khas, yaitu
a. sebagai media interpersonal dan massa;
b. bersifat interaktif,
c. memungkinkan komunikasi secara sinkron maupun asinkron.
a. sebagai media interpersonal dan massa;
b. bersifat interaktif,
c. memungkinkan komunikasi secara sinkron maupun asinkron.
Karakteristik ini memungkinkan pelajar melakukan komunikasi dengan sumber ilmu secara lebih luas bila dibandingkan dengan hanya menggunakan media konvensional.
Teknologi internet menunjang pelajar yang mengalami keterbatasan ruang dan waktu untuk tetap dapat menikmati pendidikan. Metoda talk dan chalk, ”nyantri”, ”usrah” dapat dimodifikasi dalam bentuk komunikasi melalui e-mail, mailing list, dan chatting. Mailing list dapat dianalogikan dengan ”usrah”, dimana pakar akan berdiskusi bersama anggota mailing list. Metoda ini mampu menghilangkan jarak antara pakar dengan pelajar. Suasana yang hangat dan nonformal pada mailing list ternyata menjadi cara pembelajaran yang efektif seperti pada metoda ”usrah”.
Teknologi internet menunjang pelajar yang mengalami keterbatasan ruang dan waktu untuk tetap dapat menikmati pendidikan. Metoda talk dan chalk, ”nyantri”, ”usrah” dapat dimodifikasi dalam bentuk komunikasi melalui e-mail, mailing list, dan chatting. Mailing list dapat dianalogikan dengan ”usrah”, dimana pakar akan berdiskusi bersama anggota mailing list. Metoda ini mampu menghilangkan jarak antara pakar dengan pelajar. Suasana yang hangat dan nonformal pada mailing list ternyata menjadi cara pembelajaran yang efektif seperti pada metoda ”usrah”.
Berikut adalah beberapa manfaat penggunaan teknologi informasi :
•arus informasi tetap mengalir setiap waktu tanpa ada batasan waktu dan tempat;
•kemudahan mendapatkan resource yang lengkap,
•aktifitas pembelajaran pelajar meningkat,
•daya tampung meningkat,
•adanya standardisasi pembelajaran,
•meningkatkan learning outcomes baik kuantitas/kualitas.
•arus informasi tetap mengalir setiap waktu tanpa ada batasan waktu dan tempat;
•kemudahan mendapatkan resource yang lengkap,
•aktifitas pembelajaran pelajar meningkat,
•daya tampung meningkat,
•adanya standardisasi pembelajaran,
•meningkatkan learning outcomes baik kuantitas/kualitas.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa internet bukanlah pengganti sistem pendidikan. Kehadiran internet lebih bersifat suplementer dan pelengkap. Metoda konvensional tetap diperlukan, hanya saja dapat dimodifikasi ke bentuk lain. Metoda talk dan chalk dimodifikasi menjadi online conference. Metoda ”nyantri” dan ”usrah” mengalami modifikasi menjadi diskusi melalui mailing list.
Ayah Korban Pelecehan Seksual Minta Perlindungan DPRD
Selasa, 28 Sept 2010
Surabaya - Ayah korban pelecehan seksual meminta perlindungan Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur terkait adanya ancaman pemecatan dari atasannya di kantor Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura.
Fahri (47) didampingi anaknya yang menjadi korban pelecehan seksual, SA (17), diterima pimpinan dan anggota Komisi E di gedung DPRD Jatim, Jalan Indrapura, Surabaya, Selasa, untuk mengadukan rencana pemecatan dirinya oleh Camat Ketapang, Junaidi.
"Kalau saya tidak mencabut laporan di kepolisian, saya akan dimutasi ke daerah terpencil atau dipecat," kata Fahri yang bekerja sebagai staf Bagian Kesejahteraan Sosial Kecamatan Ketapang.
Kepada pimpinan dan anggota legislatif di komisi yang membidangi kesejahteraan rakyat itu, dia mengungkapkan peristiwa pelecehan seksual yang menimpa anak gadisnya itu.
"Anak saya diperlakukan tidak sopan oleh guru agama SMA Negeri 1 Ketapang pada 2 September 2010. Saat pulang, anak saya melaporkan kejadian itu sambil menangis," katanya.
Perlakukan tidak senonoh oleh guru agama berusia 45 tahun yang sudah memiliki lima orang anak dan beberapa cucu itu kemudian oleh Fahri dilaporkan kepada pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Ketapang.
Dalam proses penyidikan, guru SMA Negeri 1 Ketapang itu pun ditahan. SA yang kini duduk di bangku kelas II SMA tersebut mengajukan pindah ke sekolah lain. "Namun, proses permohonan pindah anak saya dipersulit sehingga kami pun memutuskan anak saya untuk mondok di pondok pesantren saja," katanya.
SA pun sudah berkeinginan menjadi santriwati. "Saya merasa dapat tekanan saat di sekolah sehingga keyakinan saya bulat untuk mondok saja meskipun sebenarnya tinggal satu tahun lagi lulus SMA," kata gadis manis berjilbab itu.
Di tengah proses hukum kasus tersebut oleh pihak kepolisian, Fahri diminta mencabut laporannya. "Kalau tidak mau mencabut laporan, saya akan dimutasi atau dipecat," katanya.
Menanggapi laporan itu, Wakil Ketua Komisi E, Fuad Mahsuni, mendesak pimpinan DPRD Jatim untuk menindaklanjutinya. "Komisi E dan Komisi A akan mengambil langkah-langkah pro-aktif demi tegaknya supremasi hukum," katanya.
Sementara itu, anggota Komisi E, Badrut Tamam, mengatakan, pihaknya segera mengirimkan surat kepada Bupati Sampang dengan tembusan kepada Kapolres Sampang dan Kapolsek Ketapang.
"Seharusnya keluarga korban mendapatkan perlindungan hukum, bukan malah sebaliknya mendapatkan ancaman pemecatan," kata anggota DPRD Jatim asal Daerah Pemilihan (DP) Madura.*
Fahri (47) didampingi anaknya yang menjadi korban pelecehan seksual, SA (17), diterima pimpinan dan anggota Komisi E di gedung DPRD Jatim, Jalan Indrapura, Surabaya, Selasa, untuk mengadukan rencana pemecatan dirinya oleh Camat Ketapang, Junaidi.
"Kalau saya tidak mencabut laporan di kepolisian, saya akan dimutasi ke daerah terpencil atau dipecat," kata Fahri yang bekerja sebagai staf Bagian Kesejahteraan Sosial Kecamatan Ketapang.
Kepada pimpinan dan anggota legislatif di komisi yang membidangi kesejahteraan rakyat itu, dia mengungkapkan peristiwa pelecehan seksual yang menimpa anak gadisnya itu.
"Anak saya diperlakukan tidak sopan oleh guru agama SMA Negeri 1 Ketapang pada 2 September 2010. Saat pulang, anak saya melaporkan kejadian itu sambil menangis," katanya.
Perlakukan tidak senonoh oleh guru agama berusia 45 tahun yang sudah memiliki lima orang anak dan beberapa cucu itu kemudian oleh Fahri dilaporkan kepada pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Ketapang.
Dalam proses penyidikan, guru SMA Negeri 1 Ketapang itu pun ditahan. SA yang kini duduk di bangku kelas II SMA tersebut mengajukan pindah ke sekolah lain. "Namun, proses permohonan pindah anak saya dipersulit sehingga kami pun memutuskan anak saya untuk mondok di pondok pesantren saja," katanya.
SA pun sudah berkeinginan menjadi santriwati. "Saya merasa dapat tekanan saat di sekolah sehingga keyakinan saya bulat untuk mondok saja meskipun sebenarnya tinggal satu tahun lagi lulus SMA," kata gadis manis berjilbab itu.
Di tengah proses hukum kasus tersebut oleh pihak kepolisian, Fahri diminta mencabut laporannya. "Kalau tidak mau mencabut laporan, saya akan dimutasi atau dipecat," katanya.
Menanggapi laporan itu, Wakil Ketua Komisi E, Fuad Mahsuni, mendesak pimpinan DPRD Jatim untuk menindaklanjutinya. "Komisi E dan Komisi A akan mengambil langkah-langkah pro-aktif demi tegaknya supremasi hukum," katanya.
Sementara itu, anggota Komisi E, Badrut Tamam, mengatakan, pihaknya segera mengirimkan surat kepada Bupati Sampang dengan tembusan kepada Kapolres Sampang dan Kapolsek Ketapang.
"Seharusnya keluarga korban mendapatkan perlindungan hukum, bukan malah sebaliknya mendapatkan ancaman pemecatan," kata anggota DPRD Jatim asal Daerah Pemilihan (DP) Madura.*
Festival Karapan Sapi 2010 Wisatawan Antusias Saksikan Karapan Sapi
Senin, 25 Oktober 2010 | 16:04 WIB

SURYA/SUGIHARTO
Seorang joki berusaha memacu sepasang sapi pada Festival Kerapan Sapi Piala Presiden 2010 di Stadion R Sunarto Hadi Wijoyo, Pamekasan Madura, Minggu (24/10/2010). Festival kerapan sapi dalam rangkaian Dji Sam Soe Flavor Lounge ini diikuti 24 pasang sapi dari empat Kabupaten di Madura.SURABAYA, KOMPAS - Ribuan warga dan wisatawan tumpah ruah menyaksikan Festival Karapan Sapi Se-Madura 2010 di Stadion Raden Soenarto Hadi Widjojo, Pamekasan, Minggu (24/10/2010). Kejuaraan balapan sapi tahunan memperebutkan Piala Presiden ini menjadi magnet bagi pariwisata Pulau Madura.

Sejak Sabtu (23/10/2010), semua hotel di Pamekasan dipadati wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Sepanjang akhir pekan, di Pamekasan digelar paket wisata berupa kontes sapi sonok, atraksi kesenian budaya Madura ”Semalam di Madura”, serta karapan sapi.
Kepala Badan Koordinasi Wilayah IV Pamekasan Eddy Santoso mengatakan, ratusan wisatawan asing, para diplomat, dan komunitas wisatawan internasional turut menyaksikan atraksi yang ditampilkan.
”Mereka sudah menunggu acara ini, khususnya karapan sapi yang memang terkenal hingga ke luar negeri. Setelah melihat karapan sapi, mereka rata-rata ingin berkeliling Pulau Madura,” kata Eddy, Minggu di Pamekasan.
Sebanyak 32 diplomat Indonesia dan tujuh diplomat asing turut menyaksikan karapan sapi. Direktur Sekolah Staf Dinas Luar Negeri Kementerian Luar Negeri Eko Hartono mengatakan, para diplomat sengaja didatangkan untuk membekali mereka tentang budaya Madura dan membantu mempromosikan potensi wisata ini ke luar negeri.
James, wisatawan asal London, mengatakan, begitu mengetahui karapan sapi dari brosur wisata di Jawa Timur, ia langsung tertarik untuk melihatnya. ”Kemarin seorang teman memberi tahu saya ada karapan sapi. Saya langsung menuju ke Madura dari Surabaya,” paparnya.
Minim fasilitas
Meski telah lama menjadi tuan rumah Festival Karapan Sapi, Kabupaten Pamekasan belum memiliki stadion khusus karapan sapi. Eddy mengungkapkan, stadion yang selama ini dipakai adalah milik yayasan swasta. Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta Kabupaten Pamekasan berencana membuat stadion khusus karapan sapi yang lebih representatif. (ABK)
Mereka sudah menunggu acara ini, khususnya karapan sapi yang memang terkenal hingga ke luar negeri.
-- Eddy Santoso
Kepala Badan Koordinasi Wilayah IV Pamekasan Eddy Santoso mengatakan, ratusan wisatawan asing, para diplomat, dan komunitas wisatawan internasional turut menyaksikan atraksi yang ditampilkan.
”Mereka sudah menunggu acara ini, khususnya karapan sapi yang memang terkenal hingga ke luar negeri. Setelah melihat karapan sapi, mereka rata-rata ingin berkeliling Pulau Madura,” kata Eddy, Minggu di Pamekasan.
Sebanyak 32 diplomat Indonesia dan tujuh diplomat asing turut menyaksikan karapan sapi. Direktur Sekolah Staf Dinas Luar Negeri Kementerian Luar Negeri Eko Hartono mengatakan, para diplomat sengaja didatangkan untuk membekali mereka tentang budaya Madura dan membantu mempromosikan potensi wisata ini ke luar negeri.
James, wisatawan asal London, mengatakan, begitu mengetahui karapan sapi dari brosur wisata di Jawa Timur, ia langsung tertarik untuk melihatnya. ”Kemarin seorang teman memberi tahu saya ada karapan sapi. Saya langsung menuju ke Madura dari Surabaya,” paparnya.
Minim fasilitas
Meski telah lama menjadi tuan rumah Festival Karapan Sapi, Kabupaten Pamekasan belum memiliki stadion khusus karapan sapi. Eddy mengungkapkan, stadion yang selama ini dipakai adalah milik yayasan swasta. Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta Kabupaten Pamekasan berencana membuat stadion khusus karapan sapi yang lebih representatif. (ABK)
Jumat, 22 Oktober 2010
Tak Semua Dana Pemberdayaan Menyentuh Masyarakat
DERETAN bangunan sederhana yang menyerupai rumah petak itu tampak sedikit kumuh. Beberapa bocah lelaki terlihat girang, bermain perang-perangan di antara pakaian basah yang digantung tak teratur di pelataran barak pengungsi itu. Sementara tiga bocah perempuan juga tampak asyik menimang boneka mungil yang terbuat dari kayu.

PEMBARUAN/HENNY A DIANA
Butuh Pendidikan - Anak-anak korban konflik etnis di Kalimantan beberapa tahun lalu terpaksa tinggal di barak pengungsian di Pulau Madura bersama keluarganya. Mereka sangat membutuhkan sarana pendidikan dan berharap dana pemberdayaan dari perusahaan-perusahaan migas bisa dialokasikan untuk membangun sarana pendidikan itu.
Begitulah pemandangan yang terekam siang itu di barak pengungsi korban kerusuhan Sampit, yang terletak di tepian pantai utara Pulau Madura. Barak yang terbagi menjadi lebih dari 50 pintu tersebut, berada di Desa Ketapang Barat, Kabupaten Sampang, Madura. Saat ini, penghuni barak telah jauh berkurang dibanding empat tahun silam. Sudah banyak pengungsi yang kembali ke Sampit, Kalimantan Tengah karena merasa kondisi di sana sudah aman.
Kebanyakan dari pengungsi yang kembali ke Kalimantan mengaku tidak betah tinggal terlalu lama di Madura, tanah leluhur mereka sendiri. Hampir semua pengungsi yang masih tinggal di barak juga mengatakan hal yang sama, ingin secepatnya kembali ke Kalimantan, tempat kelahiran dan kampung halaman mereka.
"Kami minta pemerintah membantu memulangkan kami ke Kalimantan. Di sini warga sekitar tidak bisa menerima kami sebagai saudara, meskipun kami ini juga keturunan Madura. Kami dianggap orang asing. Masyarakat di sini tidak mau bergaul dengan kami, pengungsi. Jadi kami juga tidak bisa bekerja, karena tidak ada yang mau menerima kami,'' ujar Halima (32) salah seorang pengungsi yang ditemui Pembaruan belum lama ini.
Halima menuturkan, anaknya, Wulan (6), yang seharusnya sudah masuk Taman Kanak-kanak (TK), sengaja tidak disekolahkan. Begitu juga dengan anak-anak lainnya yang seusia Wulan. Alasannya, bukan hanya karena sulitnya beradaptasi dengan masyarakat setempat. Tetapi juga karena kendala biaya.
"Biaya masuk TK mahal sekali, sampai 200 ribu rupiah. Kami tidak sanggup. Di sini kami hanya menumpang, dan tidak punya penghasilan. Dari mana bisa membiayai sekolah TK. Anak-anak langsung masuk SD, karena pemerintah membantu biaya sekolah SD. Hanya saja, sejak tahun lalu bantuan itu tidak jelas, malah katanya mau dihentikan. Bagaimana nanti anak-anak bisa terus sekolah?'' ujar ibu dua anak itu.
Bantuan
Barak pengungsi yang terletak di tepi pantai Ketapang Barat itu dibangun pemerintah dengan bantuan dari sejumlah perusahaan perminyakan yang kebetulan memiliki konsesi wilayah kerja di Madura. Sebut saja, perusahaan minyak nasional PT Pertamina (Persero) atau perusahaan minyak multinasional ConocoPhillips Indonesia dan Petronas Carigali Rims JOC Ltd.
Ketiga perusahaan itu disebut-sebut menyumbangkan dana cukup besar dalam pembangunan barak bagi pengungsi korban kerusuhan Sampit. Menurut Deputy Manager Development and Relations Department ConocoPhillips Indonesia, Teguh Imanto, pada saat pembangunan barak itu, pihaknya mengucurkan bantuan lebih dari Rp 600 juta. Sementara Pertamina dan Petronas, sudah tak hapal lagi berapa rupiah yang mengalir untuk membantu pembangunan barak pengungsi di Sampang itu.
Teguh mengatakan, ConocoPhillips tidak pernah menargetkan berapa dana yang harus dikucurkan untuk program pemberdayaan masyarakat setiap tahunnya.
Tahun 2003 misalnya, perusahaan minyak asal Amerika Serikat itu, siap mengucurkan dana sebesar US$ 140.000 yang akan disalurkan melalui program pemberdayaan masyarakat (community development) di Kabupaten Sampang.
"Jadi besarnya dana yang dikeluarkan akan disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan kondisi daerah (sasaran). Tapi sebagai gambaran, perusahaan sudah menyiapkan dana community development itu setidaknya US$ 40.000 untuk setiap sumur yang dibor. Penggunaan dana itu kita serahkan kepada pemerintah daerah dan masyarakat langsung," Teguh menerangkan.
Dana US$ 140.000 yang belum dikucurkan seluruhnya itu, menurut Teguh, dimaksudkan untuk membuat kolam labuh yang dikelilingi dengan break water (semacam benteng dari bebatuan untuk memecah gelombang). Dengan kolam labuh itu, diharapkan perahu-perahu nelayan yang disandarkan dapat terhindar dari amukan badai, dan genangan air laut saat pasang juga tidak sampai masuk ke sungai.
Permintaan Pemda
Saat ditanya, mengapa dana pemberdayaan masyarakat itu tidak disalurkan untuk membantu membangun gedung sekolah atau membiayai pendidikan anak-anak pengungsi, menurut Teguh, penggunaan dana bantuan yang disiapkan dalam program pemberdayaan masyarakat sepenuhnya mengikuti permintaan pemerintah daerah (pemda).
Jawaban senada juga dilontarkan Procurement and Logistic Coordinator Petronas di Indonesia, Syarief. Perusahaan minyak asal Malaysia itu, katanya, selain memberikan bantuan dana untuk membangun barak pengungsi, juga membuatkan sumur sekaligus tempat penampungan air bersih di Ketapang Barat. Dana yang dikucurkan untuk itu sekitar Rp 100 juta.
"Menurut pemda, masyarakat di sini selalu kesulitan air bersih, terutama saat musim kemarau. Jadi, kami setuju membantu membuatkan sumur yang airnya bisa langsung dialirkan ke rumah-rumah penduduk. Biaya pemipaan air, menjadi tanggungan masyarakat. Ya, diharapkan dengan sumur ini masyarakat tidak perlu berjalan sampai dua kilometer hanya untuk mendapatkan air bersih," katanya.
Sementara, dari perbincangan dengan beberapa pengungsi yang menempati barak di Ketapang, mereka ingin agar dibangun sekolah. "Kalau bisa, ya (biaya) sekolahnya gratis. Tapi, kalau tidak bisa ya bayar juga tidak apa-apa, tapi jangan terlalu mahal. Kami ingin anak-anak pengungsi bisa sekolah dan pintar seperti anak-anak lain. Saya kira masyarakat di desa ini juga senang kalau pemerintah membangun sekolah di sini. Supaya anak-anak Madura pintar dan kalau sudah besar tidak menjadi TKW (tenaga kerja wanita-red), tapi jadi dokter," demikian harapan mereka. u
PEMBARUAN/HENNY A DIANA

PEMBARUAN/HENNY A DIANA
Butuh Pendidikan - Anak-anak korban konflik etnis di Kalimantan beberapa tahun lalu terpaksa tinggal di barak pengungsian di Pulau Madura bersama keluarganya. Mereka sangat membutuhkan sarana pendidikan dan berharap dana pemberdayaan dari perusahaan-perusahaan migas bisa dialokasikan untuk membangun sarana pendidikan itu.
Begitulah pemandangan yang terekam siang itu di barak pengungsi korban kerusuhan Sampit, yang terletak di tepian pantai utara Pulau Madura. Barak yang terbagi menjadi lebih dari 50 pintu tersebut, berada di Desa Ketapang Barat, Kabupaten Sampang, Madura. Saat ini, penghuni barak telah jauh berkurang dibanding empat tahun silam. Sudah banyak pengungsi yang kembali ke Sampit, Kalimantan Tengah karena merasa kondisi di sana sudah aman.
Kebanyakan dari pengungsi yang kembali ke Kalimantan mengaku tidak betah tinggal terlalu lama di Madura, tanah leluhur mereka sendiri. Hampir semua pengungsi yang masih tinggal di barak juga mengatakan hal yang sama, ingin secepatnya kembali ke Kalimantan, tempat kelahiran dan kampung halaman mereka.
"Kami minta pemerintah membantu memulangkan kami ke Kalimantan. Di sini warga sekitar tidak bisa menerima kami sebagai saudara, meskipun kami ini juga keturunan Madura. Kami dianggap orang asing. Masyarakat di sini tidak mau bergaul dengan kami, pengungsi. Jadi kami juga tidak bisa bekerja, karena tidak ada yang mau menerima kami,'' ujar Halima (32) salah seorang pengungsi yang ditemui Pembaruan belum lama ini.
Halima menuturkan, anaknya, Wulan (6), yang seharusnya sudah masuk Taman Kanak-kanak (TK), sengaja tidak disekolahkan. Begitu juga dengan anak-anak lainnya yang seusia Wulan. Alasannya, bukan hanya karena sulitnya beradaptasi dengan masyarakat setempat. Tetapi juga karena kendala biaya.
"Biaya masuk TK mahal sekali, sampai 200 ribu rupiah. Kami tidak sanggup. Di sini kami hanya menumpang, dan tidak punya penghasilan. Dari mana bisa membiayai sekolah TK. Anak-anak langsung masuk SD, karena pemerintah membantu biaya sekolah SD. Hanya saja, sejak tahun lalu bantuan itu tidak jelas, malah katanya mau dihentikan. Bagaimana nanti anak-anak bisa terus sekolah?'' ujar ibu dua anak itu.
Bantuan
Barak pengungsi yang terletak di tepi pantai Ketapang Barat itu dibangun pemerintah dengan bantuan dari sejumlah perusahaan perminyakan yang kebetulan memiliki konsesi wilayah kerja di Madura. Sebut saja, perusahaan minyak nasional PT Pertamina (Persero) atau perusahaan minyak multinasional ConocoPhillips Indonesia dan Petronas Carigali Rims JOC Ltd.
Ketiga perusahaan itu disebut-sebut menyumbangkan dana cukup besar dalam pembangunan barak bagi pengungsi korban kerusuhan Sampit. Menurut Deputy Manager Development and Relations Department ConocoPhillips Indonesia, Teguh Imanto, pada saat pembangunan barak itu, pihaknya mengucurkan bantuan lebih dari Rp 600 juta. Sementara Pertamina dan Petronas, sudah tak hapal lagi berapa rupiah yang mengalir untuk membantu pembangunan barak pengungsi di Sampang itu.
Teguh mengatakan, ConocoPhillips tidak pernah menargetkan berapa dana yang harus dikucurkan untuk program pemberdayaan masyarakat setiap tahunnya.
Tahun 2003 misalnya, perusahaan minyak asal Amerika Serikat itu, siap mengucurkan dana sebesar US$ 140.000 yang akan disalurkan melalui program pemberdayaan masyarakat (community development) di Kabupaten Sampang.
"Jadi besarnya dana yang dikeluarkan akan disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan kondisi daerah (sasaran). Tapi sebagai gambaran, perusahaan sudah menyiapkan dana community development itu setidaknya US$ 40.000 untuk setiap sumur yang dibor. Penggunaan dana itu kita serahkan kepada pemerintah daerah dan masyarakat langsung," Teguh menerangkan.
Dana US$ 140.000 yang belum dikucurkan seluruhnya itu, menurut Teguh, dimaksudkan untuk membuat kolam labuh yang dikelilingi dengan break water (semacam benteng dari bebatuan untuk memecah gelombang). Dengan kolam labuh itu, diharapkan perahu-perahu nelayan yang disandarkan dapat terhindar dari amukan badai, dan genangan air laut saat pasang juga tidak sampai masuk ke sungai.
Permintaan Pemda
Saat ditanya, mengapa dana pemberdayaan masyarakat itu tidak disalurkan untuk membantu membangun gedung sekolah atau membiayai pendidikan anak-anak pengungsi, menurut Teguh, penggunaan dana bantuan yang disiapkan dalam program pemberdayaan masyarakat sepenuhnya mengikuti permintaan pemerintah daerah (pemda).
Jawaban senada juga dilontarkan Procurement and Logistic Coordinator Petronas di Indonesia, Syarief. Perusahaan minyak asal Malaysia itu, katanya, selain memberikan bantuan dana untuk membangun barak pengungsi, juga membuatkan sumur sekaligus tempat penampungan air bersih di Ketapang Barat. Dana yang dikucurkan untuk itu sekitar Rp 100 juta.
"Menurut pemda, masyarakat di sini selalu kesulitan air bersih, terutama saat musim kemarau. Jadi, kami setuju membantu membuatkan sumur yang airnya bisa langsung dialirkan ke rumah-rumah penduduk. Biaya pemipaan air, menjadi tanggungan masyarakat. Ya, diharapkan dengan sumur ini masyarakat tidak perlu berjalan sampai dua kilometer hanya untuk mendapatkan air bersih," katanya.
Sementara, dari perbincangan dengan beberapa pengungsi yang menempati barak di Ketapang, mereka ingin agar dibangun sekolah. "Kalau bisa, ya (biaya) sekolahnya gratis. Tapi, kalau tidak bisa ya bayar juga tidak apa-apa, tapi jangan terlalu mahal. Kami ingin anak-anak pengungsi bisa sekolah dan pintar seperti anak-anak lain. Saya kira masyarakat di desa ini juga senang kalau pemerintah membangun sekolah di sini. Supaya anak-anak Madura pintar dan kalau sudah besar tidak menjadi TKW (tenaga kerja wanita-red), tapi jadi dokter," demikian harapan mereka. u
PEMBARUAN/HENNY A DIANA
madura Putrinya Dimesumi, Ayahnya Diancam akan dipecat atasan
madura Putrinya Dimesumi, Ayahnya Diancam akan dipecat atasan
i
Rate This
- Share this:
-
- Cetak
- Press-kan In
Langganan:
Komentar (Atom)
